Wong Kam Fung

Impian Semu Rukiyah (3)

Filed under Cerita Rekaan,Pertemanan by at 2:21 pm on May 09 2012

Ini merupakan tulisan ketiga (terakhir) Grup 10 dari Cerita Berantai bernama #3Penguasa yang diadakan Blogor (Komunitas Blogger Bogor). Anda bisa membaca tulisan pertama yang dibuat @mbitmbot dan kedua yang ditulis @nilaayu dengan mengklik nama-nama tersebut. Selamat menikmati.

———————————————
Dayu masih dalam pelukan Rukiyah ketika suara di kejauhan itu sampai di telinganya. Samar-samar dia mendengar namanya disebut. Ya, itu namanya, kecuali bila ada orang lain lagi yang bernama sama di Terminal Pulo Gadung ini. Sahabatnya yang biasa dia sapa dengan Iyah sesuai rencana telah menyusulnya ke Jakarta untuk menjadi ‘orang besar’. Dan dia berhasil menemuinya setelah dengan susah payah melepaskan diri dari rumah majikannya yang selama ini menjadi tempatnya bernaung dan mengais rejeki.

“Dayu! Benar, dia pembantu saya yang bernama Dayu, pak polisi.” Seorang perempuan setengah baya dengan rambut disasak menjulang menudingkan telunjukknya ke arah Rukiyah dan Dayu sambil berjalan cepat. Di belakangnya, seorang berseragam polisi dan dan seorang gadis remaja berusaha mengimbangi kecepatan dia berjalan.

“Hei, Penyu! Kembalikan cicin emasku yang kau curi.” Nyonya bersasak menjulang berteriak keras meski sudah berada persis di depan Dayu. Dia memanggilnya Penyu karena kejengkelannya. Cincin emas yang dia taruh di atas meja rias di dalam kamarnya telah hilang. Dia yakin pembantunya itulah yang pasti telah mencuri cincin tadi pagi karena Dayu memang setiap pagi membersihkan kamar juragannya.

“Saya tidak mengambilnya, Nyah.” Dayu menyangkal.

“Bohong! Paria, coba digeledah baju dan tasnya.”

“Siap, tante!” Paria yang ternyata keponakan nyonya bersasak menjulang dengan sigap memeriksa seluruh bagian pakaian mantan pembantu tantenya itu. Dayu meringis menahan sakit akibat gerayangan kasar Paria di sekujur tubuhnya yang lebam akibat digebuki majikannya tadi pagi. Tidak menemukan yang dicari, dia beralih ke tas yang dibawa Dayu. Segala isinya dikeluarkan dari tas kain yang sudah lusuh itu. Semua kantong dan celah di dalam tas tersebut diperiksa. Nyonya bersasak menjulang mengamati keponakannya yang bertindak laksana anjing herder mengendus narkoba. Sigap dan lincah.

“Tidak ada tante.” Paria menyerah. Dia tidak menemukan apa yang dicari.

“Kamu siapa? Pasti komplotannya si Penyu ini.” Tiba-tiba nyonya bersasak menjulang bertanya sekaligus menuduh dengan nada tinggi kepada Rukiyah. Gadis desa ini gelagapan. Rukiyah yang dari tadi berdiri bengong menyaksikan kejadian yang begitu mendadak untuk sesaat tak bisa berkata apa-apa. Dia tidak tahu permasalahan yang sedang terjadi. Dayu tadi belum sempat cerita banyak perihal kejadian yang menimpanya. Ucapan nyonya bersasak menjulang kepadanya merupakan kejutan kedua setelah sebelumnya tadi hampir dirampok para preman terminal.

“Saya Iyah temannya Dayu. Kami sekampung, di Kampung Sidomulyo.” Hanya itu yang bisa diucapkan Rukiyah setelah kagetnya hilang.

“Paria, periksa juga gadis kampung satunya ini. Siapa tahu dia terlibat.”  Paria segera mendekati Rukiyah. Polisi yang datang bersama nyonya bersasak menjulang dan keponakannya hanya memperhatikan kejadian yang sedang berlangsung di depan matanya sedari tadi. Dia hanya bertindak sebagai saksi. Seperti yang dilakukan kepada Dayu, Paria mulai menggerayangi tubuh Rukiyah. Memeriksa segala kantong dan lipatan di pakaian yang dikenakan Rukiyah. Teman Dayu ini hanya diam, tenang. Rukiyah yakin cincin itu tak mungkin akan ditemukan pada dirinya atau di dalam koper lusuhnya. Dia baru tiba dari kampung dan baru sekali ini bertemu dengan majikan sahabatnya ini, jadi mustahil barang itu ada padanya.

“Tante, ini kan cincinnya?” Paria membuka genggaman tangan kanannya. Di atas telapak tangan Paria terlihat sebentuk cincin emas dengan mata cincin berlian yang berkilau terkena cahaya lampu warung.

“Betul! Itu cincinku. Dasar pencuri! Rupanya kau memang komplotan kampung dari pembantu yang tak tahu diuntung ini.” Matanya melotot ke arah Rukiyah sementara telunjuk kanannya menuding Dayu.

Rukiyah terkejut. Matanya bolak-balik menatap ke cincin yang ada di tangan Paria dan ke wajah sahabatnya. Dia tidak mengerti mengapa cincin itu ada di dalam kopernya. Mungkinkah Dayu berbuat sekejam itu terhadap aku, sahabatnya sendiri, dengan diam-diam memasukkan cincin curian ke dalam koper? Kapan? Dari tadi dia hanya bersandar di bahuku sambil mengisahkan penderitaannya ikut nyonya bersasak menjulang, terutama seminggu belakangan ini semenjak keponakannya yang bernama Paria itu datang. Rukiyah tidak berhasil menemukan jawaban atas kejadian yang tidak masuk akal ini.

“Pak polisi, tolong tangkap dua pencuri ini.” Nyonya bersasak menjulang ini. Dia berkata kepada polisi yang sedari tadi berdiri di belakangnya.

“Ayo ikut saya.” Polisi itu berkata singkat dan menggiring kedua gadis desa itu menuju mobil patroli yang diparkir tidak jauh dari tempat itu.

Rukiyah dan Dayu duduk di bangku panjang  di bak belakang mobil patroli yang terbuka. Rukiyah masih bertanya-tanya dan tidak percaya sahabatnya yang berbuat jahat. Tidak mungkin Dayu menyembunyikan cincin itu di dalam kopernya. Lagian Rukiyah tidak pernah melihat ada kesempatan buat Dayu untuk melakukan itu karena semenjak datang Dayu terus menempel pada dirinya dan koper itu di luar jangkauannya.

Sementara itu dalam benak Dayu juga muncul beribu tanya. Tadi ketika kabur dari rumah Ibu Deborah alias nyonya bersasak menjulang, dia hanya membawa tas kain lusuh dan beberapa potong pakaian. Dia tak peduli lagi dengan barang miliknya yang lain. Yang dia pikirkan hanya satu, segera kabur dari rumah yang sudah jadi neraka semenjak keponakan majikannya tinggal di rumah itu seminggu yang lalu. Kemudian, bagaimana cincin itu bisa ada di dalam koper Iyah sahabatnya?

Mobil patroli yang membawa dua gadis Kampung Sidomulyo itu melaju menuju kantor polisi. Di belakangnya, sebuah sedan putih mengikuti. Di dalamnya seorang sopir mengemudikannya dengan tenang. Di kursi belakang, nyonya bersasak menjulang terkantuk-kantuk dan Paria keponakannya yang duduk di sebelahnya asyik dengan BB-nya. Keponakan nyonya bersasak menjulang ini dengan tersenyum penuh arti sedang mengirimkan kicauan di akun Twitternya kepada seseorang. Di layar BB-nya terbaca, “@mbitmbot @nilaayu Done! ;) ”.

Sumber gambar: di sini

Share |

One Response to “Impian Semu Rukiyah (3)”

  1. 1 3 Penguasa | blogor.orgon 09 May 2012 at 2:27 pm

    [...] Grup 10 @mbitmbot : Impian Semu Rukiyah @nilaayu      : Impian Semu Rukiyah (Bagian 2) @wkf2010    : Impian Semu Ruikyah (3) [...]

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.