Wong Kam Fung

Archive for September, 2010

Reuni Virtual

Posted by

Reuni itu menyebalkan. Reuni virtual juga menyebalkan. Harus bagaimana ini?

6 responses so far

Bermandikan Kabut

Posted by

Kamar mandi anda pernah berkabut? Punya saya pernah. Datanglah ke rumah saya bila ingin menikmati mandi kabut. Dijamin anda akan merasakan sensasi mandi yang berbeda.

12 responses so far

Pemimpin Hantu

Posted by

Dalam dunia kepemimpinan, ada pemimpin yang disebut dengan pemimpin hantu atau kita sebut saja pemimpin bayangan. Ada tapi tidak ada. Hloh, piye toh?

30 responses so far

Reuni Itu Menyebalkan

Posted by

Reuni yang dilaksanakan 14 September 2010 di Semarang kemarin merupakan acara yang menyebalkan, betul-betul menyebalkan.

18 responses so far

Ketemu Gondez di Semarang

Posted by

Gondez adalah sebuah persahabatan, jargon bermakna teman seperjuangan, sebutan yang saling mendekatkan. Dengan dipanggil gondez, kami merasa sebagai satu keluarga.

17 responses so far

Dendam Berumur 25 Tahun

Posted by

Aksi provokatif tulisan itu betul-betul ampuh. Memang, dia tidak bersuara, hanya sebuah frasa merah dua kata, tapi telinga ini terasa mendengar cemoohannya. ”Pengen ya? Sori, menu ini buat orang berduit. Bukan untuk mahasiswa kos-kosan sepertimu. Silakan ngences (ngiler). Boleh datang bila sudah ada uang.”

11 responses so far

Waktunya Bermain: Kolam Kayu

Posted by

Sebab-musabab namanya seperti itu tidak penting bagi kami. Yang paling penting adalah kami bisa menggunakan kolam itu untuk bermain air. Berenang kesana-kemari layaknya perenang yang bertanding dalam kolam skala olimpiade.

6 responses so far

Waktunya Bermain: Piring Putri Campa

Posted by

Bukan bentuk dan warnanya yang menarik dan membuat penasaran tetapi jumlahnya yang berubah-ubah saat dihitung. Bila ditanya berapa jumlah sebenarnya dari piring-piring itu, saya sendiri belum menghitungnya lagi. Biarlah itu jadi misteri tak terpecahkan bagi saya sekarang.

8 responses so far

Waktunya Bermain: Menara Masjid

Posted by

Setelah merasa menjadi pemenang karena bisa sampai di puncak menara, melihat dan memegang lonceng menara yang tidak akan terlihat dari bawah, serta melihat pemandangan kota, kami selanjutnya turun. Sampai di bawah, seorang petugas masjid berbadan besar sudah menunggu.

One response so far

Pertanyaan yang Tertinggal

Posted by

Karena kegundahan itu, saya bertekad bila nanti menyunatkan lagi, saya tidak akan membawanya ke tempat tersebut.

7 responses so far

Older Entries »

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.